fig 17.26 pnpn and other devices




Sub Chapter Light-Activated SCR

1. Pendahuluan [Kembali]

Perkembangan teknologi elektronika modern sangat bergantung pada pemahaman dan penerapan berbagai jenis komponen aktif, seperti op-amp (operational amplifier)perangkat PNPN (seperti SCR, TRIAC, dan DIAC), serta berbagai komponen semikonduktor lainnya. Komponen-komponen ini memainkan peran penting dalam sistem kontrol, pemrosesan sinyal, pengaturan daya, dan berbagai aplikasi otomatisasi industri serta konsumen.

Op-amp merupakan salah satu komponen paling serbaguna dalam elektronika analog. Dengan kemampuan untuk memperkuat sinyal, melakukan integrasi, diferensiasi, perbandingan tegangan, dan banyak fungsi lainnya, op-amp menjadi dasar dari berbagai rangkaian penting seperti penguat audio, filter aktif, dan osilator.

Sementara itu, perangkat PNPN seperti Silicon Controlled Rectifier (SCR)TRIAC, dan DIAC merupakan komponen semikonduktor yang digunakan untuk mengendalikan arus besar pada sistem AC dan DC. Mereka sering digunakan dalam pengendali daya, penyearah terkendali, serta sistem switching yang memerlukan kontrol presisi terhadap arus dan tegangan.

Selain op-amp dan PNPN, masih terdapat banyak komponen elektronik penting lainnya yang mendukung sistem elektronik secara keseluruhan, seperti transistor bipolar, MOSFET, fotodioda, dan sensor-sensor elektronik.

2. Tujuan [Kembali]

1. Menjelaskan prinsip kerja dan karakteristik op-amp (operational amplifier) serta penerapannya dalam rangkaian analog.

2. Mengidentifikasi dan memahami jenis-jenis perangkat PNPN seperti SCR, TRIAC, dan DIAC, beserta fungsi dan karakteristiknya.

3. Menjelaskan fungsi dan cara kerja perangkat elektronik lain seperti transistor BJT, MOSFET, dan sensor semikonduktor.

4. Menganalisis dan merancang rangkaian sederhana yang menggunakan op-amp dan komponen PNPN.

5. Menerapkan perangkat elektronik aktif dalam sistem kendali, penguat, osilator, dan pengendali daya.

6. Menggunakan perangkat lunak simulasi atau alat praktikum untuk menguji dan mengamati kinerja komponen dalam rangkaian.

7. Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan sistematis dalam memecahkan masalah teknis di bidang elektronika.

3. Komponen [Kembali]

1. SCR (GE C58)

Berfungsi sebagai saklar elektronik yang mengendalikan arus ke beban (pemanas), dikendalikan oleh sinyal gerbang.

Apa itu Silicon Controlled Rectifier (SCR)? dan Bagaimana Cara Kerjanya? |  MADPCB 

2. Resistor

Resistor atau disebut juga dengan Hambatan adalah komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk menghambat dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian elektronika. Satuan nilai Resistor atau Hambatan adalah Ohm.

Spesifikasi dari Resistor adalah resistansinya dan daya listrik yang dapat dihantarkan. Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, derau listrik (noise), dan induktansi. Resistor dapat diintegrasikan ke dalam sirkuit hibrida dan papan sirkuit cetak, bahkan sirkuit terpadu.

Spesifikasi

Resistor adalah komponen elektronika pasif yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena dia berfungsi sebagai penghambat arus listrik. Bila kita menginginkan arus yang besar maka kita pasang resistor yang nilai resistansinya kecil, mendekati nol atau sama dengan nol atau tidak dipasang sama sekali dengan demikian arus tidak lagi dibatasi. Resistor berfungsi sebagai  Penghambat arus listrik, Sebagai tahanan arus listrik agar listrik yang melewati resistor di hambat melalui karbon yang berada di dalam tubuh resistor menjadi di perkecil apabila resistansinya besar, Sebagai tahanan arus listrik agar listrik yang melewati resistor di hambat melalui karbon yang berada di dalam tubuh resistor menjadi di perkecil apabila resistansinya besar.

3. Kabel dan papan rangkaian

Untuk menyusun dan menghubungkan semua komponen dalam satu sistem kerja.

 

 Cara Menggunakan Papan Roti

4. Potensiometer
    
Potensiometer adalah komponen elektronik pasif berbentuk resistor variabel yang digunakan untuk mengatur atau membagi tegangan dalam suatu rangkaian. Potensiometer memiliki tiga terminal: dua terminal di ujung jalur resistif, dan satu terminal tengah yang disebut wiper. Saat poros potensiometer diputar atau digeser, wiper bergerak di sepanjang jalur resistif sehingga mengubah nilai resistansi antara wiper dan masing-masing ujung terminal. Perubahan ini memungkinkan pengguna mengatur tegangan output yang diambil dari wiper, sehingga potensiometer sering digunakan sebagai pengatur volume, pencahayaan, atau sebagai pembagi tegangan (voltage divider). Selain dalam bentuk putar (rotary), potensiometer juga tersedia dalam bentuk geser (slide) dan trimmer (untuk penyetelan tetap dalam perangkat).

Pin Out :

Spesifikasi :
  1. Memiliki 3 terminal: dua ujung resistif dan satu wiper (penggeser)
  2. Nilai resistansi umum: 1 kΩ – 1 MΩ
  3. Tipe: rotary (putar), slide (geser), dan trimmer (penyetelan tetap)
  4. Daya maksimum: sekitar 0,1 – 2 watt (tergantung ukuran)
  5. Toleransi resistansi: ±10% hingga ±20%
  6. Bahan resistif: karbon, kawat, atau cermet
  7. Fungsi utama: pengatur tegangan, volume, pencahayaan, dan sensor posisi
  8. Umur mekanik: bisa mencapai puluhan ribu siklus putaran
  9. Ukuran fisik bervariasi sesuai aplikasi (panel, PCB, miniatur)
5. Lampu
Lampu adalah perangkat yang mengubah energi listrik menjadi cahaya, digunakan sebagai sumber penerangan dalam berbagai aplikasi, mulai dari rumah tangga hingga industri. Secara umum, lampu bekerja berdasarkan dua prinsip utama: pemanasan filamen (seperti pada lampu pijar) atau excitation gas dan semikonduktor (seperti pada lampu neon dan LED). Saat arus listrik mengalir, lampu menghasilkan cahaya melalui proses termal atau elektroluminesensi, tergantung jenisnya.

Spesifikasi :
  1. Tegangan kerja: umum 3V, 6V, 12V, 24V, 220V (tergantung tipe)
  2. Daya listrik: bervariasi, mulai dari 0,5W hingga >100W
  3. Jenis cahaya: putih, kuning, biru, merah, dll.
  4. Tipe lampu: pijar, LED, neon, halogen, CFL
  5. Umur pakai: LED hingga 50.000 jam, pijar sekitar 1.000 jam
  6. Efisiensi cahaya: LED sangat efisien, pijar rendah
  7. Basis/soket: E27, E14, GU10, B22, dan lainnya
  8. Fungsi: penerangan, indikator, sinyal, dan dekorasi
  9. Intensitas cahaya (lumen): tergantung daya dan jenis lampu
  10. Waktu respon: LED sangat cepat, neon dan CFL sedikit lambat
 6. Baterai
                

                Spesifikasi dan Pinout Baterai:

                Input voltage: ac 100~240v / dc 10~30v

                Output voltage: dc 1~35v
                Max. Input current: dc 14a
                Charging current: 0.1~10a
                Discharging current: 0.1~1.0a
                Balance current: 1.5a/cell max
                Max. Discharging power: 15w
                Max. Charging power: ac 100w / dc 250w
                Jenis batre yg didukung: life, lilon, lipo 1~6s, lihv 1-6s, pb 1-12s, nimh, cd 1-16s
                Ukuran: 126x115x49mm
                Berat: 460gr

7. Dioda 
            Spesifikasi:

8. Transistor
Merupakan transistor tipe NPN yang digunakan untuk switching agar mengaktifkan kontak relay dan relay tersebut akan memberikan kontak pada motor DC dan output lainnya.
Spesifikasi :
    • Bi-Polar Transistor
    • DC Current Gain (hFE) is 800 maximum
    • Continuous Collector current (IC) is 100mA
    • Emitter Base Voltage (VBE) is > 0.6V
    • Base Current(IB) is 5mA maximum
9. LED

Light Emitting Diode atau yang sering disingkat LED merupakan sebuah komponen elektromagnetik yang dapat memancarkan cahaya monokromatik melalui tegangan maju. LED terbuat dari bahan semi konduktor yang merupakan keluarga dioda.

Klasifikasi tegangan LED menurut warna yang dihasilkan:
  • Infra merah : 1,6 V.
  • Merah : 1,8 V – 2,1 V.
  • Oranye : 2,2 V.
  • Kuning : 2,4 V.
  • Hijau : 2,6 V.
  • Biru : 3,0 V – 3,5 V.
  • Putih : 3,0 – 3,6 V.
  • Ultraviolet : 3,5 V.
10. Relay 

Relay adalah salah satu komponen elektronika yang berfungsi untuk menyambung dan memutuskan arus listrik dalam sebuah rangkaian. Karena fungsi relay tersebut, itulah mengapa komponen yang satu ini juga disebut sebagai saklar. Spesifikasi Relay umumnya adalah tegangan input 5 VDC, 12 VDC atau 48 VDC. Untuk common dan NO NC umumnya 220 vac dengan arus kerja 10 A. Jika spesifikasi relay sudah didapat kita bisa menggunakan contoh umum rangkaian switching relay dibawah ini. Rangkaian switching ini dibantu transistor sebagai pemicu

Pin out:

4. Dasar Teori [Kembali]

1. Operational Amplifier (Op-Amp)

Op-amp adalah penguat tegangan dengan gain sangat tinggi yang digunakan dalam berbagai aplikasi elektronika analog. Op-amp memiliki dua input, yaitu non-inverting (+) dan inverting (–), serta satu output. Dalam praktiknya, op-amp hampir selalu digunakan bersama dengan umpan balik (feedback) untuk mengatur gain dan kestabilan.

Konfigurasi umum op-amp meliputi:

  • Inverting amplifier

  • Non-inverting amplifier

  • Integrator

  • Differentiator

  • Comparator

Op-amp ideal memiliki karakteristik:

  • Gain open-loop tak hingga

  • Impedansi input sangat tinggi

  • Impedansi output sangat rendah

  • Bandwidth tak terbatas

2. Perangkat PNPN

Perangkat PNPN terdiri dari empat lapis semikonduktor yang membentuk tiga sambungan PN, dengan karakteristik switching yang unik. Perangkat ini banyak digunakan dalam pengendalian daya dan switching AC/DC.

a. SCR (Silicon Controlled Rectifier)
SCR adalah saklar elektronik yang hanya dapat menghantarkan arus dalam satu arah. Dihidupkan dengan memberikan pulsa kecil pada gate, dan akan terus konduksi hingga arus utama turun di bawah nilai ambang (holding current). Digunakan dalam pengatur daya, penyearah terkendali, dan rangkaian pelindung lonjakan arus.

b. TRIAC (Triode for Alternating Current)
TRIAC mirip SCR, tetapi dapat mengalirkan arus dua arah dan cocok untuk pengendalian daya pada sistem AC. Dapat dikendalikan dengan sinyal gate positif atau negatif.

c. DIAC (Diode for Alternating Current)
DIAC adalah saklar dua arah yang menghantarkan arus hanya setelah tegangan ambangnya tercapai. Sering digunakan bersama TRIAC untuk pemicu (trigger) dalam dimmer lampu dan kontrol motor.

3. Perangkat Elektronik Lainnya

a. Transistor BJT (Bipolar Junction Transistor)
Digunakan sebagai penguat sinyal atau saklar. Terdiri dari tiga lapisan semikonduktor (NPN atau PNP) dan memiliki tiga terminal: basis, kolektor, dan emitor.

b. MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor)
Transistor yang dikendalikan oleh tegangan dan memiliki impedansi input sangat tinggi. Cocok untuk switching kecepatan tinggi dan efisiensi daya.

c. Sensor Semikonduktor
Perangkat seperti fotodioda, termistor, dan sensor gas memanfaatkan sifat semikonduktor untuk mendeteksi parameter fisik seperti cahaya, suhu, atau gas, dan mengubahnya menjadi sinyal listrik.

1. Resistor

Resistor merupakan salah satu komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk membatasi arus yang mengalir pada suatu rangkaian dan berfungsi sebagai terminal antara dua komponen elektronika.Tegangan pada suatu resistor sebanding dengan arus yang melewatinya (V=IR).Cara menghitung nilai resistor dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Cara menghitung resistansi pada resistor:

Pita atau gelang ke-1 menunjukkan nilai atau angka pada digit pertama, begitu pula pada gelang ke dua. Masing-masing warna pada pita memiliki nilai yang berbeda

Pita ke-3 menunjukkan jumlah angka 0 di belakang digit ke 2 atau dikalikan dengan 10^n, yang dimana n merupakan nilai pada warna pita ke 3

Pita ke-4 menunjukkan nilai toleransi dari resistor
Contoh :
Pita ke-1 :   Coklat             = 1
Pita ke-2 :   Hitam              = 0
Pita ke-3 :   Hijau               = 5 nol di belakang angka pita ke-2, atau dikalikan 105
Pita ke-4 :   Perak               = Toleransi 10%
Maka nilai resistor tersebut adalah 10×105 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi 10%

2. Kapasitor

      Adapun rangkaian HPF +40dB/dec adalah seperti pada rangkaian dibawah. Dari rangkaian terlihat bahwa sinyal input diserikan dengan kapasitor C, sehingga sinyal input yang berfrekuensi diatas frekuensi cut-off akan dilewatkan dan sebaliknya dibawah frekuensi cut-off akan diredam atau dilemahkan. Pelemahan terjadi karena reaktansi XC akan semakin besar apabila frekuensi semakin kecil seperti hubungan berikut.

Simbol :

Cara menghitung nilai kapasitor :
  1. Masukan 2 angka pertama langsung untuk nilai kapasitor.
  2. Angka ke-3 berfungsi sebagai perpangkatan (10^n) nilai kapasitor.
  3. Satuan kapasitor dalam piko farad.
  4. Huruf terakhir menyatakan nilai toleransi dari kapasitor.
    Nilai kapasitor (104J) : 10 * 10^4 pF = 10^5 pF = 100nF; toleransi 5% = ± 95nF sampai 105nF
Kapasitor adalah komponen elektronika pasif yang dapat menyimpan muatan listrik dalam waktu sementara.

Daftar nilai toleransi kapasitor :
  1. B = 0.10pF
  2. C = 0.25pF
  3. D = 0.5pF
  4. E = 0.5%
  5. F = 1%
  6. G = 2%
  7. H = 3%
  8. J = 5%
  9. K = 10%
  10. M = 20%
  11. Z = + 80% dan -20%
Rumus kapasitor 

 3. Uni Junction Transistor (UJT)

      Transistor Unijunction atau yang disingkat UJT , adalah perangkat solid state tiga terminal lain yang dapat digunakan dalam pulsa gerbang, rangkaian pengaturan waktu dan aplikasi generator pemicu untuk mengaktifkan dan mengendalikan thyristor dan triac untuk aplikasi jenis pengendalian daya AC. Meskipun Transistor Unijunction memiliki nama transistor, karakteristik switching-nya sangat berbeda dari transistor bipolar atau transistor efek medan konvensional karena tidak dapat digunakan untuk memperkuat sinyal tetapi digunakan sebagai transistor switching ON-OFF. UJT memiliki konduktivitas searah dan karakteristik impedansi negatif yang bertindak lebih seperti pembagi tegangan variabel selama kerusakan.

Simbol :

Rumus :
Total resistansi batang silikon (resistansi Ohmiknya) akan bergantung pada tingkat doping semikonduktor yang sebenarnya serta dimensi fisik saluran silikon tipe-N, tetapi dapat direpresentasikan oleh RBB.


Karakteristik :


4. SCR Triggering

      SCR Triggering adalah proses untuk mengaktifkan Silicon Controlled Rectifier (SCR), yang merupakan komponen semikonduktor yang berfungsi seperti saklar yang dapat dikendalikan secara elektronik. SCR memiliki tiga terminal utama, yaitu anoda, katoda, dan gate. Dalam keadaan normal, SCR berada dalam posisi "OFF" sehingga tidak ada arus yang mengalir. Namun, SCR dapat diaktifkan atau dipicu dengan memberikan tegangan atau arus kecil pada terminal gate. Ketika ada arus positif yang diterapkan ke gate dan ada tegangan yang cukup antara anoda dan katoda, SCR akan berubah menjadi konduktif dan memungkinkan arus mengalir. Proses ini disebut dengan triggering. 

      Triggering pada SCR dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti voltage triggering (tegangan positif pada gate), current triggering (arus kecil yang diberikan pada gate), atau pulse triggering (menggunakan pulsa untuk memicu SCR). Setelah SCR terpicu dan mengalirkan arus, ia akan tetap berada dalam keadaan "ON" selama tegangan antara anoda dan katoda tetap melebihi arus tertentu yang disebut holding current. SCR banyak digunakan dalam aplikasi seperti pengontrol daya AC, pengatur kecepatan motor, dan dimmer pencahayaan, di mana kontrol presisi terhadap waktu pemicu sangat penting untuk mengatur daya yang diberikan pada beban.

Simbol :

Rumus :


Bentuk gelombang :


Karakteristik :


1. Forward breakover voltage (V(BR)F*) adalah tegangan di atas mana SCR memasuki wilayah konduksi. Tanda bintang (*) adalah huruf yang akan ditambahkan yang tergantung pada kondisi terminal gerbang sebagai berikut:
O = sirkuit terbuka dari G ke K
S = korsleting dari G ke K
R = resistor dari G ke K
V = bias tetap (tegangan) dari G ke K

2. Holding current (IH) adalah nilai arus di bawah ini yang SCR beralih dari kondisi konduksi ke daerah blok maju di bawah kondisi yang disebutkan.

3. Forwarding dan reverse blocking region adalah daerah yang sesuai dengan kondisi open circuit untuk penyearah terkontrol yang memblokir aliran muatan (arus) dari anoda ke katoda.

4. Reverse breakdown voltage setara dengan wilayah Zener atau longsoran dioda semikonduktor dua lapisan dasar.

5. Dioda

Dioda adalah komponen yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Sebuah Dioda dibuat dengan menggabungkan dua bahan semi-konduktor tipe-P dan semi-konduktor tipe-N. Ketika dua bahan ini digabungkan, terbentuk lapisan kecil lain di antaranya yang disebut depletion layer. Ini karena lapisan tipe-P memiliki hole berlebih dan lapisan tipe-N memiliki elektron berlebih dan keduanya mencoba berdifusi satu sama lain membentuk penghambat resistansi tinggi antara kedua bahan seperti pada gambar di bawah ini. Lapisan penyumbatan ini disebut depletion layer.

 6. Relay




 Relay adalah suatu peranti yang bekerja berdasarkan elektromagnetik untuk menggerakan sejumlah kontaktor yang tersusun atau sebuah saklar elektronis yang dapat dikendalikan dari rangkaian elektronik lainnya dengan memanfaatkan arus listrik sebagai sumber energinya. Kontaktor akan tertutup (menyala) atau terbuka (mati) karena efek induksi magnet yang dihasilkan kumparan (induktor) ketika dialiri arus listrik. Berbeda dengan saklar, pergerakan kontaktor (on atau off) dilakukan manual tanpa perlu arus listrik.

7. LED


Light Emitting Diode atau sering disingkat dengan LED adalah komponen elektronika yang dapat memancarkan  cahaya monokromatik ketika diberikan tegangan maju. LED merupakan keluarga Dioda yang terbuat dari bahan semikonduktor. Warna-warna Cahaya yang dipancarkan oleh LED tergantung pada jenis bahan semikonduktor yang dipergunakannya. LED juga dapat memancarkan sinar inframerah yang tidak tampak oleh mata seperti yang sering kita jumpai pada Remote Control TV ataupun Remote Control perangkat elektronik lainnya.


 8. Baterai



    Baterai (Battery) adalah sebuah alat yang dapat merubah energi kimia yang disimpannya menjadi energi Listrik yang dapat digunakan oleh suatu perangkat Elektronik. Hampir semua perangkat elektronik yang portabel seperti Handphone, Laptop, Senter, ataupun Remote Control menggunakan Baterai sebagai sumber listriknya. Dengan adanya Baterai, kita tidak perlu menyambungkan kabel listrik untuk dapat mengaktifkan perangkat elektronik kita sehingga dapat dengan mudah dibawa kemana-mana. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dapat menemui dua jenis Baterai yaitu Baterai yang hanya dapat dipakai sekali saja (Single Use) dan Baterai yang dapat di isi ulang (Rechargeable).

5. Example [Kembali]

1. Sebuah PNPN device seperti SCR memiliki 4 lapisan semikonduktor (p-n-p-n). Jelaskan bagaimana kondisi ON terjadi pada perangkat ini, dan apa peran dari gerbang (gate)?
Jawab:

SCR (Silicon Controlled Rectifier) adalah perangkat PNPN yang terdiri dari empat lapisan dan tiga junction. SCR tetap dalam kondisi OFF (tidak konduktif) sampai:

  • Tegangan maju diberikan antara anoda dan katoda

  • Sinyal gate kecil diberikan ke terminal gate → mengaktifkan SCR

Saat sinyal gate diterapkan:

  • Terjadi pemicu (trigger) di junction tengah

  • SCR menjadi konduktif (ON) dan tetap ON meski sinyal gate dihentikan, selama arus anoda-katoda tetap di atas holding current

2. Dalam sistem proteksi tegangan tinggi, digunakan Light-Activated SCR (LASCR). Sebuah LASCR memerlukan intensitas cahaya minimum 5 mW/cm² untuk menyala. Jika intensitas cahaya yang mengenai permukaan LASCR hanya 2 mW/cm², apakah perangkat akan konduktif?
Jawab: tidak, LASCR bekerja seperti SCR biasa, tetapi dipicu oleh cahaya. Jika intensitas cahaya belum mencapai ambang (threshold), maka tidak ada trigger yang cukup kuat untuk mengaktifkan perangkat. Oleh karena itu, LASCR tetap dalam kondisi OFF jika hanya menerima 2 mW/cm², di bawah ambang 5 mW/cm².

3. Sebuah LASCR digunakan dalam rangkaian pengendali daya AC. Tegangan antara anoda dan katoda adalah 120V, dan intensitas cahaya melebihi ambang batas. Setelah menyala, arus yang mengalir adalah 80 mA. Jika holding current dari LASCR tersebut adalah 30 mA, apa yang terjadi jika arus turun menjadi 20 mA?
Jawab: LASCR akan mati (OFF)

6. Problem [Kembali]

1. Sebuah Light-Activated SCR (LASCR) memerlukan intensitas cahaya minimal 4 mW/cm² untuk menyala saat diberikan tegangan anoda-ke-katoda sebesar 100 V. Diketahui bahwa luas permukaan sensor cahaya pada LASCR adalah 0,5 cm². 
Berapa daya cahaya minimum total (dalam mW) yang harus diberikan agar LASCR menyala? 
Jawab: 

Daya Total=Intensitas×Luas=4mW/cm2×0,5cm2=2mW

 
2. Sebuah LASCR digunakan untuk mengontrol beban resistif. Setelah dipicu oleh cahaya, arus yang mengalir melalui LASCR adalah 150 mA. Holding current-nya adalah 50 mA.Kemudian, beban dikurangi sehingga arus turun menjadi 40 mA.
Apa yang akan terjadi pada kondisi konduksi LASCR?
Jawab: 
Arus awal (150 mA) > holding current → LASCR menyala.
Setelah beban dikurangi, arus turun jadi 40 mA, di bawah holding current 50 mA.
Jika arus < holding current, LASCR akan berhenti konduksi (mati), meskipun cahaya tetap ada.

3. Sebuah sistem menggunakan LASCR untuk proteksi overlight pada sirkuit optik. Ketika intensitas cahaya mencapai 10 mW/cm², LASCR akan menyala dan menutup jalur ke beban.Jika sumber tegangan adalah 120 V, dan resistansi beban setelah LASCR adalah 2400 Ω, hitung:
Arus yang mengalir saat LASCR menyala
Jawab:

I=VR=1202400=0.05A=50mA

I=RV=2400120=0.05A=50mA

7. Soal Pilihan Ganda [Kembali]

1.Apa fungsi terminal gate pada sebuah Light-Activated SCR, selain pemicu oleh cahaya?
A. Meningkatkan resistansi internal
B. Mematikan perangkat secara langsung
C. Menyediakan pemicu tambahan untuk menyalakan perangkat
D. Menyerap muatan berlebih dari anoda 
Jawab: C. Menyediakan pemicu tambahan untuk menyalakan perangkat
Meskipun LASCR diaktifkan oleh cahaya, terminal gate masih dapat digunakan sebagai pemicu tambahan (trigger), terutama jika intensitas cahaya tidak mencukupi. Jadi, perangkat ini bisa diaktifkan dengan kombinasi cahaya dan sinyal gate.

2.  Apa perbedaan utama antara SCR biasa dan LASCR?
A. LASCR hanya digunakan di arus searah
B. LASCR menyala karena cahaya, bukan sinyal listrik pada gate
C. SCR memiliki tegangan lebih tinggi daripada LASCR
D. SCR digunakan dalam sistem digital, LASCR tidaK
Jawab: B. LASCR menyala karena cahaya, bukan sinyal listrik pada gate
LASCR adalah SCR yang diaktifkan oleh cahaya. Tidak seperti SCR biasa yang memerlukan sinyal gate, LASCR akan menyala ketika intensitas cahaya mencapai ambang tertentu. Keduanya tetap menggunakan prinsip PNPN empat lapis.

3. Aplikasi paling umum dari Light-Activated SCR (LASCR) adalah:

A. Penyearah daya di industri
B. Saklar otomatis pada pencahayaan luar ruangan
C. Rangkaian pemicu PWM
D. Penguat sinyal audio

Jawab: B. Saklar otomatis pada pencahayaan luar ruangan

LASCR sering digunakan dalam aplikasi di mana sakelar otomatis berdasarkan cahaya dibutuhkan, seperti sistem penerangan otomatis saat malam hari. Cahaya ambient memicu LASCR yang mengontrol beban seperti lampu.

8. Rangkaian Proteus [Kembali]

RANGKAIAN 17.26




9. Video [Kembali]







10. Download File [Kembali]

Rangkaian 17.26 : disini

Download Datasheet Resistor : disini

Download Datasheet Baterai : disini

Download Datasheet Diode : disini

Download Datasheet Osiloskop : disini

Download Datasheet SCR  : disini

Download Datasheet Relay :  disini

Download Datasheet LED :  disini

Download Datasheet Lampu disini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MODUL 4

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MODUL 2

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MODUL 3